Anda tentu sering mendengar hal yang memprihatinkan tentang penderitaan TKW Timur Tengah, bukan ? Memilukan memang walau itu tidak semua negara penempatan karena Dubai, Korea, Taiwan termasuk Hong Kong yang mejadi fokus dari Yayasan Pembelajar Jakarta yang bekerjasama dengan Kabarindo dengan program andalan Be Indonesian Smart & Active - BISA selama 3 tahun terakhir ini sudah banyak membuahkan banyak hal yang menarik dari sisi pencitraan positif. Anda pasti sudah mahfum dan sependapat bahwa masa depan dari TKI kita itu sangat bergantung pada kondisi kultur, geopolitik dan tingkat kesejahteraan sebuah negara sehingga memang tidak pantas menyamaratakan semua TKI, bukan ? Nah, tak ada salahnya Anda mengais good news berikut ini dari pengakuan para BMI-Buruh Migran Indonesia yang ada di Hong Kong bersama redaksi. Dari informasi Facebook yang saat ini sudah ada 3.000-an yang saling bertukar informasi dengan akun masing-masing menyampaikan bahwa mereka sudah lama memiliki WA atau WhatsApp dan We Chat selain ada beberapa yang ber-Skype dan LINE. Mulai dari Annie Pur asal TulungAgung, Ella Wajak asal Kota Malang, Erna asal Banyuwangi, Hermi Forever asal Jawa Tengah, Nessa, Nia asal Brebes Jawa Tengah, Nurmiyah asal Banyuwangi, Sari Dewi asal Kediri sampai Zhara dari Ponorogo semua memakai WhatsApp dan ada beberapa dari mereka aktif menggunakan WeChat. "Hong Kong punya infrastruktur sudah maju sekali dengan biaya internet murah dan sudah ada dimana-mana. Hotspot tiap 2 meter sampai-sampai rumah majikan kami sudah mutlak ada wifi sehingga internet itu sudah jadi kebutuhan laiknya sandang dan pangan. Saya saja dengan smartphone membantu sekali berbagi informasi dengan WeChat maupun dengan WhatsApp walau terus terang kampung halaman masih susah karena tidak ada koneksi internet. Saya dulu punya Skype tapi gak maksimal," jelas Nia renyah dengan rekaman 12 detik di WeChat.